Install Theme
  • Sam: Why do I and everyone I love pick people who treat us like we're nothing?
  • Charlie: We accept the love we think we deserve.
I Voted
Bu, Pak, pemilu ini bukan pertempuran Malaikat vs Iblis. Jadi jangan pernah khawatirkan keimanan orang lain (apalagi ini Calon Presiden kita, duh!), khawatirkanlah kualitas keimananmu sendiri. Jadi jangan pernah bicara sejarah seolah-olah kamu paling paham soal sejarah. Memilih presiden bukan seperti memilih Tuhan yang harus sempurna. Memang tidak seorangpun bisa bebas dari bias, terlebih dengan semakin terbukanya arus informasi. Namun pikiran & kemampuan analisa kita, hanya kita yang bisa atur.
Selamat datang Indonesia baru. Saya selalu yakin apapun hasil dari pemilu kali ini, Indonesia akan menjadi jauh lebih baik dari sekarang. Salam hormat buat Pak Prabowo dan Pak Jokowi. Sebuah kehormatan bagi saya untuk memenuhi hak konstitusional pertama saya kepada putra-putra terbaik bangsa seperti bapak-bapak sekalian. Terima kasih buat Pak SBY atas kepemimpinannya yang luar biasa selama ini.
Sekali lagi saya ucapkan selamat buat seluruh rakyat Indonesia :)

I Voted

Bu, Pak, pemilu ini bukan pertempuran Malaikat vs Iblis. Jadi jangan pernah khawatirkan keimanan orang lain (apalagi ini Calon Presiden kita, duh!), khawatirkanlah kualitas keimananmu sendiri. Jadi jangan pernah bicara sejarah seolah-olah kamu paling paham soal sejarah. Memilih presiden bukan seperti memilih Tuhan yang harus sempurna. Memang tidak seorangpun bisa bebas dari bias, terlebih dengan semakin terbukanya arus informasi. Namun pikiran & kemampuan analisa kita, hanya kita yang bisa atur.

Selamat datang Indonesia baru. Saya selalu yakin apapun hasil dari pemilu kali ini, Indonesia akan menjadi jauh lebih baik dari sekarang. Salam hormat buat Pak Prabowo dan Pak Jokowi. Sebuah kehormatan bagi saya untuk memenuhi hak konstitusional pertama saya kepada putra-putra terbaik bangsa seperti bapak-bapak sekalian. Terima kasih buat Pak SBY atas kepemimpinannya yang luar biasa selama ini.

Sekali lagi saya ucapkan selamat buat seluruh rakyat Indonesia :)

Cerita Tingkat Tiga

Halo. Kebetulan dalam 3 bulan belakangan, ada kalimat yang sedang booming di kalangan mahasiswa angkatan 2011. Bukan, bukan 'Da aku mah apa atuh', iya sih, itu juga termasuk, tapi yang ini beda. Ini tentang kesadaran bahwa 4 tahun itu ternyata sebentar. Dari yang paling realistis seperti 'Ngga kerasa ya semester depan kita udah tingkat akhir.' sampai yang paling melankolis 'Duh ntar pendamping wisuda gue siapa ya?' sering terdengar disela-sela percakapan atau diskusi kami. Meh.

Tapi ternyata untuk mencapai tingkat akhir tidak sesimpel selesai uas-nilai keluar kemudian selamat datang di tingkat akhir seperti anak sekolahan yang habis ambil rapot langsung naik kelas, tidak. Tapi ada satu fase lagi yang harus kami lalui, kerja praktek. Ini seharusnya menyenangkan, bahkan saya sudah merencanakannya jauh-jauh sebelum semester 6 dimulai. Tapi seperti kata pepatah: manusia merencanakan, Tuhan pulalah yang menentukan.

Ketika sibuk menjadi alasan.
Iya, sebut saja saya pecundang, mencari-cari alasan ketika rencana tidak berhasil. Tapi sungguh, saya tidak lihai untuk melakukan multitasking. Semester 6 di prodi yang saya kecimpungi (duh, diksi!) adalah semester dengan predikat semester paling melelahkan, terutama bagi kami 12 pejuang Prosman. Tidak jarang saya menghabiskan lebih dari 18 jam per hari di kampus, bahkan mendekati akhir semester, 24 jam di kampus sudah menjadi agenda harian.

Jadi rencana awal saya adalah mulai melamar kerja praktek di bulan januari, tapi faktanya? Saya sering lupa; inget harus bikin lamaran kerja praktek > 'Gung, progress report udah?' - 'Oiya bener' > lupa > inget lagi harus bikin lamaran kerja praktek > 'Gung, workshop buat di Universitas X gimana? Gung tugas ini gimana? Gung modul? Gung..' - 'IYAAAAAA' > lupa > ulangi.

Saya harus akui saya cukup picky saat mendaftar kerja praktek. Sampai akhirnya di bulan mei pertengahan, which is sudah sangat dekat dengan masa kerja praktek, dimana teman-teman saya sudah banyak yang mendapatkan tempat KP, saya mulai mendaftar, di dua perusahaan: 1) Garuda Indonesia, atas rekomendasi teman-teman saya yang sudah mendapatkan konfirmasi dari Garuda, 2) Cargill Indonesia, murni atas ketertarikan saya saat opportunity gallery walk di forum terakhir YLI-Satellite kemarin.

Singkat cerita, saya beserta 10 orang teman saya sudah mendapatkan konfirmasi dari Garuda Indonesia, kata orang Garuda-nya sih, kami baru bisa mulai KP bulan Juli, jadi kami diminta ke kantor Garuda akhir Juni untuk mengurus administrasi, kami tenang.

Nah, ada sedikit cerita tentang Cargill. Jadi ceritanya saya daftar ke Cargill via email, bukan seperti Garuda yang lewat pos. Saya kirim CV saya ke Cargill, hanya CV, tanpa proposal atau surat pengantar. Hanya sepatah-dua patah kata sebagai konten email itu sendiri. Surprisingly, dua minggu setelahnya, sekitar pukul 8.15, tepat ketika saya sedang melaksanakan ujian akhir, handphone saya bergetar. Nomor jakarta. Saya selalu was-was ketika ada nomor jakarta yang masuk ke handphone saya. Biasanya, hanya ada dua kemungkinan, Papa, atau Microsoft. Tapi Papa kan lagi di Bandung, Microsoft? mungkin. Akhirnya saya angkat, kemudian terdengar suara mbak-mbak, ngomong pake bahasa inggris. Shock, otak belum siap untuk diajak ngomong pake bahasa asing. Akhirnya dengan menjawab seadanya (oh, yes, aha, of course, blabla), sambil menghindari ketahuan pengawas ujian, sambil menenangkan diri. Sampai pada akhirnya si mbak Indri kalau tidak salah, bertanya kurang lebih begini 'Memungkinkan tidak kalau saya interview sekarang?', disitu saya gamang. Pertama, ini ujian waktunya tinggal 10 menit lagi, dan saya belum selesai; Kedua, ini kesempatan penting, tapi si mbaknya menawarkan, berarti dia memperbolehkan seandainya tidak bisa, kan? akhirnya saya jawab bahwa saya sedang ujian saat itu. Akhirnya si Mbaknya bilang, 'oke satu jam dari sekarang akan saya telpon lagi'. Lega.

Satu jam kemudian. Shit happened, tidak ada telpon. Kesempatan melayang. 'Rejekinya nyerempet, Gung', kata teman saya. Hancur.

[update] Kemarin, 3 Juli 2014, ketika saya di masjid untuk melaksanakan sholat ashar, handphone saya bergetar, lagi-lagi nomor jakarta. Setelah saya angkat, ternyata mbak Indri itu lagi, dan akhirnya saya diinterview saat itu juga. Fiuh~

Harapan Palsu itu Nyata

Selama ini saya selalu merasa kata-kata 'PHP atau Pemberi Harapan Palsu' itu cuma jokes. Sekarang saya sadar, itu bukan jokes, it’s real. Kami, bersepuluh, di PHP-in Garuda Indonesia.

23 Juni 2014, sesuai janji, akhir juni, kami datang ke Garuda Indonesia Training Center di Jakarta Barat untuk mengurus administrasi. Bertemu dengan Pak aziz, sebagai orang yang bertanggung jawab mengurusi magang mahasiswa di Garuda, kami ditanyai tentang bidang apa yang ingin kami ambil untuk kerja praktek ini. Setelah itu, beliau bertanya teman-teman kami yang lain mendaftar ke BUMN mana selain di Garuda. Kemudian pembicaraan mengarah ke 'Ada ngga kejadian teman kalian sudah daftar, tapi ternyata ditolak atau direschedule karena perusahaan sudah tidak bisa menerima lagi?'. Dari sana saya sudah ada firasat, bahwa kami berada dalam masalah. Akhirnya beliau menjelaskan, bahwa Garuda sudah penuh, beliau akan mengusahakan di anak-anak perusahaan, 3 hari akan diberi kabar. Kemudian tiga hari berlalu, dan tidak ada kabar. We are fucked up.

Permasalahannya adalah kenapa kami diberikan konfirmasi bahwa kami dapat melaksanakan kerja praktek di Garuda bila ternyata belum ada posisi yang dapat kami tempati? Kenapa tidak bilang diawal bahwa Garuda sudah penuh, sehingga kita dapat mendaftar di perusahaan lain? Dan saat itu, sudah akhir Juni, minggu depan sudah bulan puasa, kemana lagi kami harus mencari tempat kerja praktek?

*Kabar terbaru yang saya dapat, Pak aziz itu dimarahi oleh atasannya, karena salah satu dari kami melaporkan kejadian ini ke salah satu orang Garuda. Dan kabarnya Pak Aziz itu belum jadi pegawai tetap Garuda. Duh, semoga ini menjadi pelajaran buat kita semua ya :’)

Singkat cerita, akhirnya saya (dan Dimas, salah satu dari korban PHP Garuda) kerja praktek dengan ayah saya. Iya, benar-benar dengan ayah saya, di kantor pusat Telkom Indonesia. Saya berangkat dan pulang bareng ayah, saya jadi supirnya, jadi sebulan ini judulnya 'My dad, My boss' mehehe. Awalnya awkward, sih, tapi lama-lama asik juga. Kebetulan ayah saya memegang bagian Quality Management di Telkom Indonesia, yaa jadilah saya berkutat dengan ISO dan ITIL.

Yah, begitulah cerita singkat tentang sebuah fase yang kami sebut kerja praktek. Selamat datang tingkat akhir :)

_

1. Paragraf terakhir related sama post yang ini 

2. Cerita tentang Cargill related sama post yang ini 

3. Men are better at concentrating on a single task 

The Heaven (Still) Lies Under My Mother’s Feet

Engga tau ya, tapi dibandingkan sama Papa, saya selalu merasa punya ikatan yang luar biasa kuat sama Mama. Terlepas dari kata orang-orang bahwa.. 'Bu, anaknya yang kedua ini mirip banget sama ibu, kalau yang lain mirip Papanya', atau celetukan ‘Za, anak kau ini mirip kali sama kau waktu kau kecik dulu’ setiap pulang ke dusunsaya selalu merasa Mama ada dalam setiap gerak-gerik yang saya lakukan. Yang entah bagaimana caranya, direstui atau tidaknya keputusanku, akan langsung berdampak pada hasilnya. Real-time result.

Yang terbaru misalnya, adalah ketika saya memutuskan untuk mengambil Kerja Praktek di Jakarta. Pada saat pertama kali mendengar niatan tersebut, Mama memang tidak menunjukkan tanda-tanda penolakan. Saat itu saya berfikir, mungkin Mama sudah mulai bisa merelakan anak-anaknya pergi jauh dari rumah. Beberapa hari kemudian, sepertinya Mama mulai kepikiran. Kemudian muncullah pertanyaan, 'Nanti berarti pas bulan puasa ya? Kamu kuat panas gitu disana? Nanti sahurnya gimana? Disana sama siapa aja temennya? Nyuci baju gimana? Pulang tiap minggu?'. Awalnya semua pertanyaan itu saya jawab enteng, tapi namanya anak, pasti ngerasa, sebenernya Mama nggak pengen saya ke Jakarta. Makin mendekati hari keberangkatan, Mama makin sering melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya dampak dari kekhawatiran beliau. Sampai akhirnya sempat muncul kalimat, 'kenapa nggak di Bandung aja, sih?'. Dari sana saya sadar, Mama tidak sepenuhnya merestui.

Dan voila, saya yang sudah 95% dipastikan akan melakukan kerja praktek di Jakarta, tiba-tiba batal secara sistematis, seperti ada skenarionya. Iya, akhirnya saya di Bandung. Kegagalan-kegagalan sistematis seperti ini sebenarnya sudah beberapa kali saya alami, dan kalau saya coba tracing, ujung pangkalnya hampir dapat dipastikan adalah restu atau ijin dari Mama. Sesimpel itu.

Dan seperti apa yang teman saya ucapkan diatas, mumpung masih bisa kumpul sama orang tua, kenapa engga. Mungkin memang harus begini caranya. Dan saya alhamdulillah tidak pernah menyesali segala kegagalan-kegagalan itu, sih. Justru sering saya temukan keuntungan-keuntungan atau hal-hal baik dibalik semuanya. Feeling seorang Ibu tuh ya, memang luar biasa :’

Love you, Mam.

Don’t cry because it’s over, smile because it happened.
Untuk 2 tahun yang luar biasa bersama kalian. Aku ngga tau lagi harus gimana mendeskripsikannya saking berkesannya. Yang jelas kalian berdua puluh delapan sukses merubah sosok agung agriza yang katanya super introvert, tertutup, cenderung anti-sosial menjadi sangat terbuka, doyan ngoceh dan sebagainya. Selamat dan terima kasih.
Kalian adalah rumah kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Terima kasih buat 4 semester yang luar biasa. Terima kasih buat kasih sayang, dukungan, semangat, pelukan, tawa dan semua energi positif yang sudah kalian berikan. Semoga lima atau sepuluh tahun lagi, kita akan kembali disatukan dalam kehangatan, dan senyuman yang sama. Semangat!

Don’t cry because it’s over, smile because it happened.

Untuk 2 tahun yang luar biasa bersama kalian. Aku ngga tau lagi harus gimana mendeskripsikannya saking berkesannya. Yang jelas kalian berdua puluh delapan sukses merubah sosok agung agriza yang katanya super introvert, tertutup, cenderung anti-sosial menjadi sangat terbuka, doyan ngoceh dan sebagainya. Selamat dan terima kasih.

Kalian adalah rumah kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Terima kasih buat 4 semester yang luar biasa. Terima kasih buat kasih sayang, dukungan, semangat, pelukan, tawa dan semua energi positif yang sudah kalian berikan. Semoga lima atau sepuluh tahun lagi, kita akan kembali disatukan dalam kehangatan, dan senyuman yang sama. Semangat!