Home    Info    Ask    Twitter   About
About: The name's Agung Agriza, currently living in Bandung, INA.
Mungkin

Halo, mungkin kamu bertanya kenapa aku bisa seperti ini. Mungkin kamu bertanya bagaimana bisa aku setega ini. Mungkin kamu bertanya bagaimana bisa aku menahan gejolak rindu yang dipaksa untuk pura-pura tidak tahu ini. Mungkin kamu bertanya bagaimana bisa secepat ini aku melepas rasa yang sudah tumbuh sebesar dan sekokoh ini. Mungkin juga kamu bertanya masihkah ada kesempatan untuk kita kembali menyatu. 

Halo kasihku itupun jika kamu masih pantas untuk aku panggil kekasih—, mudah saja aku menjawab semua rasa tanya dan penasaranmu. Karena semua jawaban adalah dirimu. Aku begini karena dirimu. Kamu pun pasti tahu andai tidak pura-pura lupa, aku adalah jenis laki-laki paling perasa, dan perasaanku padamu adalah rasa yang paling besar dan yang paling menyita tenaga dan pikiranku. Pikirmu, aku bisa menebang habis semua rasa yang sudah tumbuh sebesar itu? Pikirmu mudah menepis bayangmu yang sudah nyaris sewindu ini menemani hari-hariku?

Bukankah aku sudah pernah bilang, baik-baik disana, karena aku pun disini akan menjadi orang yang baik-baik. Bukankah aku sudah pernah bilang bahwa aku paling tidak suka dikhianati. Meski pada akhirnya aku akan lebih banyak memaafkan ketika tersakiti. Kamu terlalu sering memainkan perasaanku. Dan kini aku lelah dan mungkin akan menyerah. Mungkin akan lebih baik merelakan daripada terus menyakitkan. Mungkin akan lebih baik mengikhlaskan daripada harus berjuang sendirian.

Karena akan ada fase dimana yang paling sabar menjadi muak, yang paling peduli menjadi masa bodoh, yang paling setia akan menjadi pergi ketika sabar, peduli, dan setianya tidak dihargai.

Dan untuk pertanyaan terakhir, jawabannya adalah mungkin. Aku tidak berani mendahului masa depan. Mari perbaiki diri masing-masing, siapa tahu Tuhan punya takdir lain.

Selamat malam, manis.

*Dua puluh satu jam paska enam belas panggilan, dan sekian belas pesanmu aku abaikan untuk yang pertama kali. Mohon dimengerti dan dimaafkan.

April, a Wrap Up

People change. Apa kabar? Ternyata tahun ini penuh sekali, ya.

Pernah ngga sih terlintas dalam pikiran kapan kiranya kamu bakal berhenti berusaha akan suatu hal? Aku belum pernah, setidaknya sampai tahun lalu. Dan sampai pada akhirnya aku berhenti berusaha. Mungkin aku terlambat, mungkin seharusnya dari dulu saja. Mungkin aku terlalu naif, toh aku sudah pernah berkali-kali menulis dua kalimat terakhir itu, tapi kenyataannya? …

Tapi kita harus sadar bahwa ada kalanya orang yang masuk kedalam kehidupan kita memang hanya untuk sekedar lewat, kemudian memberikan kita pelajaran, kemudian pergi begitu saja. Dan tidak jarang pelajaran yang ditorehkan dapat meninggalkan kepedihan dan kesedihan. Tapi mungkin memang itu esensi dari menjalani hidup; Mata kita memang sesekali perlu dibasuh dengan air mata, agar kita bisa memandang hidup lebih jelas dari sebelumnya. No pain, no gain, kan?

Dan hey, ternyata kebahagiaan itu dekat, loh. Mereka ada disekeliling kita asal kita mau membuka diri dan sedikit lebih sensitif dengan anugerah Tuhan yang satu itu. Nah, tentang membuka diri; Perkenalkan, ini aku yang baru, setidaknya sejak dua bulan yang lalu. Tidak ada lagi seseorang yang memenuhi pikiranku. Tidak ada beban yang berlebihan atas seseorang yang aku prioritaskan. Mungkin belum ada. Tapi kini prioritas pertama adalah diri sendiri. 

Salam kenal.

“Jauh dan tetap saling mendoakan lebih baik daripada dekat namun saling melupakan. Karena mendoakan adalah sebaik-baiknya mengingat seseorang.” —(via saadahnk)

(via jamikanasa)

Masa peralihan tahun

Belakangan minatku terhadap tulis-menulis dan baca-membaca buku kian surut. Sebuah kemunduran yang terjadi di tahun dua ribu tiga belas. Aku susah untuk mencari alasan atau sebab dari —aku menyebutnya— kemunduran kualitas hidup ini. 

Bolehlah aku jadikan ini sebagai resolusi di tahun dua ribu empat belas, membaca dan menulis, sehingga tidak lagi banyak terjadi penyesalan-penyesalan seperti di tahun dua ribu tiga belas. Ah, iya, dua ribu tiga belas memang tahun yang paling banyak menimbulkan penyesalan pada diriku.

Bersyukur Tuhan selalu berlaku adil pada setiap makhluknya. Selain penyesalan dan hal yang kusebut dengan kemunduran kualitas hidup itu, dua ribu tiga belas juga merupakan tahun dimana aku semakin menjadi aku yang sebenarnya, aku yang semakin dewasa. yang melakukan apa yang aku inginkan, bukan apa yang orang katakan atau perintahkan.

My destination is no longer a place, rather a new way of seeing. —Marcel Proust

Aku akan selalu bersyukur dengan pengalaman kompetisi debat marketing bersama kedua teman terbaik, duduk di depan panggung utama malam penganugrahan inovasi terbaik di negeri ini, tiga hari mengalami indonesia yang berbeda di yogyakarta, mengikuti kompetisi desain produk di semarang bersama ketiga teman terbaik, mengemban amanah baru sebagai lead regional microsoft student partner, bergabung dengan sebuah keluarga baru —prosmanlab—, berdebar-debar di semifinal imagine cup, bergabung dengan sekumpulan calon pemimpin terbaik di negeri ini di YLI 2013, dan tentu saja keluarga terbaik ruang kelas C314. Terima kasih, nikmat sekali rasanya bersama melakukan hal-hal terbaik, melakukan perjalanan-perjalanan terbaik bersama orang-orang terbaik.

Karena sejauh apapun perjalanan yang kamu lalui, kamu tidak akan menemukan apa-apa selain dirimu sendiri.

Tidak berharap banyak aku pada dua ribu empat belas. Hanya ingin menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi, yang lebih professional, yang merangkul lebih banyak keluarga, yang lebih menghargai waktu, yang lebih produktif, yang lebih banyak melakukan perjalanan, yang lebih mendekat kepada sang pencipta, yang lebih banyak menulis dan membaca buku, yang selalu memberi tanpa mengharap kembali seperti sang matahari.

Terima kasih dua ribu tiga belas, andai kata ada kesedihan dan kepedihan yang engkau berikan padaku pun, aku anggap itu sebagai pelajaran yang semakin melapangkan dada dan membukakan pikiranku.

Ngomong-ngomong, aku belum pernah seoptimis ini menyambut tahun baru. Semoga menjadi awal yang baik!

Have a nice Saturday, y’all. 

We are shaped by our thoughts; we become what we think. When the mind is pure, joy follows like a shadow that never leaves — Buddha

We are shaped by our thoughts; we become what we think. When the mind is pure, joy follows like a shadow that never leaves Buddha

"Spin Madly On" theme by Margarette Bacani. Powered by Tumblr.