Home    Info    Ask    Twitter   About
About: The name's Agung Agriza, currently living in Bandung, INA.
April, a Wrap Up

People change. Apa kabar? Ternyata tahun ini penuh sekali, ya.

Pernah ngga sih terlintas dalam pikiran kapan kiranya kamu bakal berhenti berusaha akan suatu hal? Aku belum pernah, setidaknya sampai tahun lalu. Dan sampai pada akhirnya aku berhenti berusaha. Mungkin aku terlambat, mungkin seharusnya dari dulu saja. Mungkin aku terlalu naif, toh aku sudah pernah berkali-kali menulis dua kalimat terakhir itu, tapi kenyataannya? …

Tapi kita harus sadar bahwa ada kalanya orang yang masuk kedalam kehidupan kita memang hanya untuk sekedar lewat, kemudian memberikan kita pelajaran, kemudian pergi begitu saja. Dan tidak jarang pelajaran yang ditorehkan dapat meninggalkan kepedihan dan kesedihan. Tapi mungkin memang itu esensi dari menjalani hidup; Mata kita memang sesekali perlu dibasuh dengan air mata, agar kita bisa memandang hidup lebih jelas dari sebelumnya. No pain, no gain, kan?

Dan hey, ternyata kebahagiaan itu dekat, loh. Mereka ada disekeliling kita asal kita mau membuka diri dan sedikit lebih sensitif dengan anugerah Tuhan yang satu itu. Nah, tentang membuka diri; Perkenalkan, ini aku yang baru, setidaknya sejak dua bulan yang lalu. Tidak ada lagi seseorang yang memenuhi pikiranku. Tidak ada beban yang berlebihan atas seseorang yang aku prioritaskan. Mungkin belum ada. Tapi kini prioritas pertama adalah diri sendiri. 

Salam kenal.

“Jauh dan tetap saling mendoakan lebih baik daripada dekat namun saling melupakan. Karena mendoakan adalah sebaik-baiknya mengingat seseorang.” —(via saadahnk)

(via jamikanasa)

Masa peralihan tahun

Belakangan minatku terhadap tulis-menulis dan baca-membaca buku kian surut. Sebuah kemunduran yang terjadi di tahun dua ribu tiga belas. Aku susah untuk mencari alasan atau sebab dari —aku menyebutnya— kemunduran kualitas hidup ini. 

Bolehlah aku jadikan ini sebagai resolusi di tahun dua ribu empat belas, membaca dan menulis, sehingga tidak lagi banyak terjadi penyesalan-penyesalan seperti di tahun dua ribu tiga belas. Ah, iya, dua ribu tiga belas memang tahun yang paling banyak menimbulkan penyesalan pada diriku.

Bersyukur Tuhan selalu berlaku adil pada setiap makhluknya. Selain penyesalan dan hal yang kusebut dengan kemunduran kualitas hidup itu, dua ribu tiga belas juga merupakan tahun dimana aku semakin menjadi aku yang sebenarnya, aku yang semakin dewasa. yang melakukan apa yang aku inginkan, bukan apa yang orang katakan atau perintahkan.

My destination is no longer a place, rather a new way of seeing. —Marcel Proust

Aku akan selalu bersyukur dengan pengalaman kompetisi debat marketing bersama kedua teman terbaik, duduk di depan panggung utama malam penganugrahan inovasi terbaik di negeri ini, tiga hari mengalami indonesia yang berbeda di yogyakarta, mengikuti kompetisi desain produk di semarang bersama ketiga teman terbaik, mengemban amanah baru sebagai lead regional microsoft student partner, bergabung dengan sebuah keluarga baru —prosmanlab—, berdebar-debar di semifinal imagine cup, bergabung dengan sekumpulan calon pemimpin terbaik di negeri ini di YLI 2013, dan tentu saja keluarga terbaik ruang kelas C314. Terima kasih, nikmat sekali rasanya bersama melakukan hal-hal terbaik, melakukan perjalanan-perjalanan terbaik bersama orang-orang terbaik.

Karena sejauh apapun perjalanan yang kamu lalui, kamu tidak akan menemukan apa-apa selain dirimu sendiri.

Tidak berharap banyak aku pada dua ribu empat belas. Hanya ingin menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi, yang lebih professional, yang merangkul lebih banyak keluarga, yang lebih menghargai waktu, yang lebih produktif, yang lebih banyak melakukan perjalanan, yang lebih mendekat kepada sang pencipta, yang lebih banyak menulis dan membaca buku, yang selalu memberi tanpa mengharap kembali seperti sang matahari.

Terima kasih dua ribu tiga belas, andai kata ada kesedihan dan kepedihan yang engkau berikan padaku pun, aku anggap itu sebagai pelajaran yang semakin melapangkan dada dan membukakan pikiranku.

Ngomong-ngomong, aku belum pernah seoptimis ini menyambut tahun baru. Semoga menjadi awal yang baik!

Have a nice Saturday, y’all. 

We are shaped by our thoughts; we become what we think. When the mind is pure, joy follows like a shadow that never leaves — Buddha

We are shaped by our thoughts; we become what we think. When the mind is pure, joy follows like a shadow that never leaves Buddha

Dimulai dari Yogyakarta

Ini perjalanan paling dadakan yang pernah saya lakukan, tapi justru ada banyak seni yang tergores dari setiap spontanitas yang kita lakukan. Terlebih, ini adalah sebuah perjalanan.

Kita mainnya kejauhan..

Itu adalah kalimat pertama yang muncul secara perlahan -lebih seperti mendesis- dari mulut saya ketika kaki saya menyentuh tanah istimewa ini. Mendadak berada jauh sekali dari rumah, sekian ratus kilometer. Perasaan takut itu ada, tapi perasaan bangga karena telah melakukannya, jauh lebih besar.

-

Semua berawal karena Indonesia. Sebuah entitas yang mendadak sangat saya cintai belakangan ini. Dan sepertinya semesta memang sedang mencoba untuk menuntun saya melalui perjalan ini, perjalanan untuk mengalami Indonesia.

Buku novel sejarah, teman yang melancong ke manila, enam puluh delapan tahun kemerdekaan, dan semua hal yang entah mengapa seakan-akan berkata kepada saya : tunggu apa lagi?

Pada akhirnya, saya mulai tergerak.. minimal untuk mencari informasi mengenai kemana saya harus berjalan. Sampai pada satu titik paling krusial, tiket promo muncul di depan mata saya. Tanpa pikir panjang lagi saya ambil kesempatan itu. Pertanyaannya adalah, dengan siapa?

-

Mengalami Indonesia adalah sebuah perjalanan spiritual, Dan Yogyakarta, adalah tempat yang paling tepat untuk memulainya.

Nggak tau ya, tapi gue selalu merasa gue akan selalu dan harus selalu ke Jogja. Apa ya.. gue seperti punya.. sense of belonging sama Jogja..

Itu yang berkali-kali saya ucapkan pada Rara, perempuan paling kuat dan ajaib yang pernah saya kenal. Dan entah bagaimana, perempuan inilah yang berdiri disamping saya untuk mengalamai Indonesia di Yogyakarta.

-

Tidak ada kata-kata yang sanggup menggambarkan Yogyakarta. Daerah istimewa ini harus dirasakan, harus dialami, bukan dibaca, ataupun didengar. Bukan, bukan dikunjungi, tapi dialami.

Hmmm… lihat saja kedua orang tua saya, sama sekali tidak percaya ketika saya ceritakan tentang betapa hebatnya yogyakarta yang baru saja saya alami, karena mereka hanya pernah mengunjungi Yogyakarta. Dan untuk mengalami Yogyakarta secara mendalam hanya ada satu cara: Berbaur. Backpacking, bukan melancong.

"Dan… sehabis itu yang kamu perlu… Cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja… Dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya… Serta mulut yang akan selalu berdoa” - Donny Dhirgantoro

-

Dari Yogyakarta, saya mulai mengalami Indonesia, makin mengenal Indonesia, makin mencintai Indonesia. Terima kasih ya Allah, sudah mengijinkan saya untuk merasakan dan mengalami indahnya negeri-Mu. 

Mengelilingi Indonesia bukan sebuah mimpi yang terlalu muluk, kan? Dan disini, di Yogyakarta, perjalanan saya mengelilingi Indonesia dimulai.

*kemudian mengalun syahdu lagu Indonesia Pusaka 

"Spin Madly On" theme by Margarette Bacani. Powered by Tumblr.